Kumpulan Cerita Mini 2

 

Nino dan Ahmad

Chelsea Rofiah Valencia Agustan Kelas IXB

 Pada suatu ketika ada 2 orang teman yang sangat dekat.  Mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Dalam suka maupun duka. Saling menasehati jika salah satu dari mereka khilaf. Yang Satu berbadan tambun bernama Ahmad dan yang berambut ikal bernama Nino. Suatu  pagi mereka  bermain bersama  Nino berkata “eh tau gak Mad gue nanti malem diajak mabok bareng , lu mau ikut enggak? Mumpung temen gue yang bayarin jadi gratis hahhah!”.ucap Nino ngakak. “ Gila lu, heh minum tuh haram noo! Sadar lo nanti yang nanggung dosa lo orang tua lo , lo gak kasian ape sama orang tua lo , udah ah , jangan ngaco lo .” ucap Ahmad kesal . “ orang tua gue kan udah meninggal coy lo tau sendiri gue kan broken home !” seloroh Nino seraya menggandeng tangan  Ahmad agar mau ikut . “ Nah !orang tau lo udah gak ada bukannya tobat malah lo makin sinting !” Ahmad ngedumel

Dan azan  pun berkumandang ,” dah ah tu , azan kan sholat dulu yuk!” Tukas Ahmad merangkul pundak Nino. “ya udah tapi abis sholat lo ikut yaa? Please .”Nino menghiba . “Liat aja nanti!“ sahut Ahmad masuk masjid mengambil wudhu.

Saat selesai sholat isya  seperti biasa  ada tausiah dari ustad Ahmad Syaikhu. Mereka menyimak kajian tersebut. Sebagaimana yang dikutip dalam ceramahnya bahwa dari Abu Usaid bin Malik bin Robiah as saidi , ia berkata “ pada suatu waktu kami duduk di samping rasulullah SAW, tiba tiba datanglah seorang laki laki dari bani salamah , lalu bertanya “ ya Rasulullah kedua orang tua ku telah meninggal dunia , apakah masih ada kesempatan untuk berbakti kepada keduanya?.”beliau menjawab “Masih, yaitu menshalatkannya memohon ampunan bagi mereka berdua, menyempurnakan (melaksanakan) janji janjinya sesudah mereka meninggal dunia , menyambung persaudaraan yang kamu tidak menyambungnya kecuali melalui keduanya, dan memuliakan sahabat-sahabatnya.” Setelah ustad Ahmad beliau melanjutkan bicaranya . “ sadar kah kalian bahwa orang tua kita yang sudah meninggal di sana menanti doa dari kalian, menanti kiriman al-fatihah? Sadar kah kalian!? “ teriak ustad Ahmad membuyarkan lamunan Nino. Perkataan ustadz Ahmad Syaiku membuatnya terenyuh.

Nino sontak menangis menyesali perbuatannya. Ia teringat apa yang sudah dilakukannya terhadap kedua orangtuanya. Mulutnya tak henti-hentinya beristigfar sembari mengelus dada.” Jangan menambah dosa, udah batalin aja tolak, jangan mau lo di ajak maksiat!” ujar Ahmad menepuk pundak Ahmad. Nino menganggukan kepala seraya berkata “Ya malem ini gue mau yasinan dan mendoakan orang tua!, makasih ye uda diingetin kalo bukan karena lo mungkin gue udah kesana. “ iye santuy  bro! Gue balik ya uda malam sahut Ahmad berpamitan “Iye hati-hati “ tukas Nino menjabat tangan Ahmad. Merekapun berpisah di persimpangan jalan.

Ibu adalah Inspirasi hidupku

Syifa Niswatul Husna Kelas VIIIB

                Pada suatu hari ada anak bernama Rieke. Dia mempunyai ibu bernama Ruwe . Ia juga sekaligus merupakan guru Rieke. Oleh karenanya Ia berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Disepanjang jalan mereka sering berbincang-bincang. Dari mulai tugas sekolah hingga teman bermain. Diselingi senda gurau hingga tertawa terbahak-bahak.  Membangun kedekatan sebagai ibu dan anak dan tentunya chemistry antara guru dan siswa. Sungguh suatu hal yang tak dapat dilupa.

                Sekolah akan mengadakan nice holiday selama Dua hari . Untuk hari pertama lokasinya di pantai dan hari berikutnya diselenggarakan di taman. Kegiatan tersebut dilaksaksanakan dari pagi hingga sore hari. Mereka bersuka ria  menghabiskan waktu bersama. Terik mentari tak menghalangi mereka. Hingga tak terasa sore pun tiba. Mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing.

                “Ibu tidak apa-apa?”tanya Rieke cemas memandang wajah ibunya. “Ibu tidak apa-apa nak!” jawab ibunya yang terlihat lemas dan pucat. “Istirahatlah besok harus sekolah” ucapnya lagi mengelus kepala Rieke. Rieke mencium tangan ibunya bergegas menuju kamarnya.

                Beberapa hari kemudian badan bu Ruwe nampak kurus. Ia sering bolak-balik ke dokter untuk berobat. Dari hasil USG ibu Ruwe didiagnosa penyakit Kanker Darah. Hidupnya di prediksi tidak akan lama lagi. Namun Ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Tetap beraktivitas seperti sedia kala hingga putrinya tidak menaruh curiga perihal kesehatannya. Karena Ia menyimpan rahasia hidupnya rapat-rapat agar tidak diketahui oleh Rieke. 

                Pada suatu kesempatan Rieke mengikuti Seleksi Olimpiade Sains di luar kota. Untuk beberapa hari Ia terpaksa menginap  jauh dari keluarga. Ia mendengar kabar dari telpon bahwa ibunya ngedrop masuk rumah sakit. Ia sangat bersedih ingin rasanya segera pulang untuk menengok namun apalah daya jarak teramat jauh dari jangkauan. Ia hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan ibunya.

                Terngiang dibenaknya akan nasehat yang pernah diucapkan bahwa bekerja itu harus total karena totalitas adalah kunci dari kesuksesan. Rieke berusaha segenap hati untuk menyelesaikan perhelatan antar pelajar itu. Fokus dengan apa yang dilakukannya.

                Usaha tidak pernah mengingkari hasil yang dicapai. Rieke berhasil meraih juara 2 diajang bergengsi tersebut. Hatinya berbunga pasti ibunya bangga kepadanya gumamnya seorang diri. Medali itu akan diberikannya sebagai hadiah untuk ibunya.

                Terlihat dari kejauhan kerumunan orang mendatangi rumahku. Terdengar pilu isak tangis pertanda kesedihan. Tiba-tiba seorang kerabat merangkulku masuk kedalam. Kulihat ibuku dibalut kain putih di ruang tamu. Tubuhku lemas tanpa tenaga. Tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku duduk bersimpuh di hadapan ibuku yang terbaring kaku. Tak kuasa menahan tangis. Kutumpahkan segenap rasa sejadi-jadinya.

Teringat akan tutur katanya bahwa hidup harus ikhlas. Walau penuh dera siksa. Kutaburkan bunga di pusara, seuntai kata dalam doa semoga engkau khusnul khotimah disisinya. Aku berjanji akan belajar bersungguh-sungguh sesuai pesanmu dulu. Ibu engkaulah inspirasi hidupku

Salah Kaprah

Najla Hurin’in Kelas VIIIB


Disebuah sekolah ada seorang murid yang bernama Hana. Hana sangatlah baik namun terkadang menyebalkan karena suka jahil dan usil. Namun begitu Ia sosok yang perhatian dan suka menolong. Oleh karenanya walau usil Ia digandrungi banyak teman. Mereka tak segan meminta bantuan Hana.

Tetangga rumahnya ada warga baru pindahan dari luar kota. Mereka berasal dari tempat lahir mamanya Hana. Maka dari itu walau baru kenal langsung akrab. Salah satu keluarganya ada yang sebaya dengan Hana. Ia cenderung pendiam dan menyendiri. Suatu siang Ia bertemu Hana kepergok curi-curi pandang. Matanya tak sengaja beradu. Hal itu membekas dihati Hana. Hana merasa ada yang memperhatikannya. Usut pumya usut bernama Ahmad. Cowok cool berkulit Putih.

Perasaan itu tumbuh berkembang seiring berjalannya waktu. Kebaikan Ahmad disalah artikan oleh Hana. Ia beranggapan bahwa Ahmad menaruh hati padanya. Suatu hari di taman kota Hana memergoki Ahmad duduk sendiri. Ia berniat menghampiri walau hanya say hello.

Tiba-tiba Ahmad tersenyum ke arahnya. Dada Hana berdegup kencang. Langkah kakinya dipercepat. Tinggal beberapa meter dari tempat duduk Ahmad, ada seorang anak berambut panjang menyalip jalannya melambaikan  tangan kearah Ahmad. Hana tertekun seketika jantungnya berhenti berdetak. Hatinya bergejolak ternyata bukan dirinya yang ditunggu Ahmad. Ingin rasanya Ia berteriak sekencang-kencangnya menyaksikan apa yang telah terjadi namun Ia urungkan. Hanya tarikan nafas yang panjang untuk meredam kecamuk di dada.

Penari

Siti Raisha Balqis Kelas IXB

Hobi menari sudah digeluti Indria semenjak kanak-kanak. Ia senang meniru adegan gerak tari di Televisi. Gerakan tari itu mudah dihafalnya. Bakat tersebut diperoleh secara otodidak bukan dari warisan orang tuanya. Untuk mengasah talenta yang dimilikinya Indria di masukkan ke sebuah sanggar. Sehingga kegemarannya menari semakin terasah.

Awalnya Indria masih malu-malu jika Ia menari di depan banyak orang. Namun karena sering latihan Dia jadi terbiasa. Walau kadang ada yang mencibir memperolok namun tak dihiraukannya. Justru Ia semakin terpacu untuk terus berlatih dan berlatih.

Gerak tubuh yang gemulai membuat orang terkesima. Dia mampu menjiwai setiap gerak lekuk tari sehingga membuat orang terhipnotis. Tariannya menyatu dengan alunan gamelan. Sorak sorai penonton bergemuruh menyaksikannya.

Jiwa menari Indria sudah tertanam didadanya. Hasratnya menggebu-gebu kalau ada pertunjukan tari dan kegiatan sejenisnya. Keinginan untuk meramaikannya tak terbendung. Oleh karenanya setiap ada kegiatan Dia ikut serta.

Debutnya yang pertama Indria mengikuti acara  festival hari lahir kota Cirebon. Dia menari Topeng kebanggan kota Udang. Setiap pertunjukannya membuat kesan yang dalam. Karena pasti ada cerita disetiap prosesnya.

Di Jogya akan diadakan perlombaan tari daerah. Walau sedang kurang enak badan Indria keukeuh ingin ikut. Semangatnya untuk menari mengalahkan ketidak berdayaannya. Justru itikad itu yang mendorong kesembuhannya.

Kerja kerasnya menuaikan hasil Ia meraih juara ke 3. Itu membuatnya semakin bersemangat untuk konsisten membangun kepiawaiannya. Motif utama Dia menyukai tari tradisional adalah melestarikan budaya warisan nenek moyang agar tidak tergilas roda-roda zaman. Alasan itulah mengapa Ia lebih mendalami tarian klasik.

Kisah Kasih Kakak Beradik

Nur Faizah Kelas IXB

Kakak beradik ini sangat rukun. Dalam segala hal sering berbagi cerita. Mungkin karena keadaan ditinggal kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Pergi pagi pulang malam. Mereka hanya numpang mandi dan tidur. Jarang sekali berkomunikasi. Asisten rumah tangganyalah yang berperan mengurusi kebutuhan anak-anaknya. Bahkan ketika acara pembagian raport sekolah pun orang tuanya menugaskan pembantu untuk mengambilnya. Alasan klasik kesibukan yang merapat himgga tidak mempunyai waktu luang. Namun begitu kedua anaknya tidak mempermasalahkannya karena menjadi hal lumrah sejak kecil.

Hingga masuk tahun ajaran baru pun tiba. Sang kakak berkeinginan untuk meneruskan ke sekolah umum. Kedua orang tuanya tidak menyetujuinya karena alasan tidak bisa memantaunya. Oleh karena itu mereka memilih alternatif memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren agar ada yang mengawasinya. Kakakpun tak berkutik menuruti keinginan orang tuanya. Alhasil Dia lebih mandiri tidak mengandalkan orang lain.

Karena seringnya kebersamaan di rumah dengan adiknya terselip rindu terhadapnya. Jadwal kunjungan dimanfaatkan untuk temu kangen. Walau waktu terbatas karena terbentur aturan  cukup untuk menumpahkan rasa rindu. Senandung doa untuk adiknya terkasih semoga Allah menjagamu.

Begitupun si adik tidak diizinkan masuk sekolah umum Ia mengikuti jejak sang kakak menimba ilmu di pondok pesantren. Hanya saja lokasinya yang berbeda. Hanya liburan yang mempertemukan mereka. Kakak beradik yang dididik untuk mempelajari makna hidup yang sebenarnya. Jauh dari orang tua dan kerabat. Hanya sujud dikeheningan yang menyatukan mereka.

Bertepuk Sebelah Tangan

Farisa Attamimi Kelas VIIIB

                “Hayyy kenalin aku Adza!” menyodorkan tangannya tersenyum manis kearah  Risa yang melongo kaget tiba-tiba seseorang menyapanya.”Aku Risa!” balas Risa tersenyum keki. Tangannya agak gemetaran terasa dingin kaya abis berendam di kolam es. Namun hatinya tak bisa dipungkiri klo dia senang sekali bertemu dengannya. Kakinya serasa ga berpijak di bumi terbang melayang melanglang buana. “Aku masuk kelas dulu ya!” seloroh Adza membuyarkan lamunan Risa. “Okeyyyy, see u!” Risa melambaikan tangannya.

                Adza cowok cool gandrungan anak cewek dikelas yang super keren, ramah dengan segudang prestasi. Rupanya yang rupawan membuat cewek tergila-gila. Sikapmya yang santun mengundang banyak empatik. Belum lagi torehan prestasi yang diukirnya siapapun ingin mendekatinya.

                Sebenarnya Risa menaruh rasa terhadapnya. Sejak pandangan pertama di lorong kelas. Ia menyisakan rasa yang tidak dapat difahami oleh akal fikirannya. Karena rasa itu hadir begitu saja tanpa Ia sadari. Terbayang olehnya senyum yang menghiasi  lesung pipinya. Namun hasratnya Ia urungkan  melihat keakrabannya dengan cewek kakak tingkatnya.

                Dia hanya bisa memandanginya dari jauh ketika Adza bermain basket di lapangan sekolah. Itu sudah cukup baginya sebagai penawar kegelisahan hati. Risa terkadang tersenyum-senyum sendiri yang sulit diartikan oleh orang yang melihatnya. Layaknya orang lagi kasmaran. Walau Ia sadar perasaannya entah kapan  akan pernah berbalas.

              Suatu ketika Ia memergoki Adza sedang bersenda gurau dengan kakak tingkatnya di depan perpustakaan. Dadanya terasa panas terbakar, padahal hari seusai hujan reda. Yang jadi permasalahan si doi ga pernah merasa justru tersenyum manis memamerkan gigi putihnya ketika berpapasan.  Memang keadaan tidak patut disalahkan karena Dia tak pernah mengerti apa yang dirasakannya. Beginilah kasih bertepuk sebelah tangan gumamnya sedih mengelus dada.

 

 


     

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut Ilmu di Pesantren by Syahrul Imam Fachrurozi

Aku Kamu Kita Peduli by Ance Wulan Nurfarida

Implementasi Program Maghrib Mengaji di Kota Cirebon by Agus Talik, S.Ag