Cerita Mini 3
Hikmah Suatu Tragedi
“Tidaaak,aku tidak mau sekolah di situ!” teriak Syari ketika ditanya ayahnya untuk bersekolah berbasis boarding school. Dadanya bergejolak memberontak. Beberapa hari Ia mengurung diri. Diajak bicarapun ia hanya menjawab seperlunya. Karena apa yang diutarakan ayahnya sangat berbanding terbalik dengan apa yang diimpikannya. Itu membuatnya bermuram durja. Enggan berinteraksi dengan orang seisi rumah.
Cita-cita orang tua Syari terhadap anak-anaknya amatlah mulia. Ia ingin kelak anak-anaknya dapat mengecap pendidikan hingga ke puncak menara gading. Selain itu baik dari segi akhlaknya. Pertimbangan itulah yang memotivasinya menyekolahkan anak-anak ke sekolah bersendi pesantren. Meskipun hal itu mengharuskannya membanting tulang guna mewujudkannya. Tak masalah baginya yang terpenting putra-putrinya bersekolah.
Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih begitu bunyi pepatah lama. Ayah Syari mengalami kecelakaan saat sedang berkendara di jalan raya dan mengharuskannya bermalam di rumah sakit. Mendengar berita tersebut Syari sangat sedih karena harus menyaksikan orang tuannya terbaring lemas di kasur pesakitan. Dia berfikir bahwa dirinya lah yang menyebabkan orang tuannya bisa seperti ini. Ia sangat menyesal karena dulu pernah menolak hasrat orang tuanya. Sejak saat itu Syari berjanji akan menuruti apapun perintah kedua orang tuannya.
Beberapa minggu kemudian orang tuanya pun sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Syari pun langsung menghampiri orang tuannya dan langsung mengiyakan permintaannya yang kemarin. Syari menciumi tangan keriput orang tuanya tak terasa air mata membasahi kedua pipinya. Meminta ampun atas perbuatannya mengurung diri.
Waktu kelulusan Syaripun tiba. Besoknya Ia berangkat ke sekolah barunya. Ada sedikit keraguan di dadanya mungkin karena pertama kalinya bertemu dengan orang-orang baru. Ternyata mereka ramah dan baik tak seseram yang dibayangkan. Baik teman-temannya maupun pengajarnya. Syari senang dan betah tinggal di pondok. Banyak bidang ilmu yang dapat dipelajari, bukan saja pengetahuan umum tapi juga wawasan keagamaan. Pembelajarannya pun tidak monoton tapi juga banyak kegiatan outing class yang tidak membosankan.
Alhamdulilah berkat doa kedua orang tua dan dorongan guru serta kerja kerasnya membuahkan hasil. Prestasi demi prestasi dapat ia raih. Pasti ini berkat anugerah yang diturunkan Allah atas keikhlasannya mematuhi kedua orang tuanya. Sebagaimana sabda baginda rasulullah bahwa ridho Allah itu ada pada ridho kedua orangtuanya. Sungguh nikmat yang tak terhingga. Sujud syukur atas segala karunianya. Tak lupa seuntai kata dalam doa semoga ayah ibu sehat selalu.
Profil Penulis
Ubaid Hasiib Alauddin lahir di Tangerang, 9 November 2008 saat ini menempuh pendidikan di SMPIT Pesantren Qur'an Kayuwalang duduk di kelas IXA. Hobi menulis dan bercita-cita sebagai arsitek.


Komentar
Posting Komentar