TARBIYYAH AQLIYAH Oleh : Hasan Bisri dan Habibie Novel Bajri
Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma-norma Islam2 . Hasil Konferensi Pendidikan Internasional pertama yang diadakan di Makkah merumuskan tujuan pendidikan Islam adalah untuk menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui pelatihan.spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia, oleh karena itu pendidikan islam musti memenuhi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya : spiritual/ruhaniah, intelektual, imaginatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan.3 Dari berbagai substansi penciptaan manusia, substansi immateri atau ruhnya adalah yang paling esensial. Aspek ruhani merupakan bagian manusia yang paling mulia4 . Dan juga merupakan unsur yang paling penting5 . Karena al- rūh kekal6 , dan merupakan media yang menghubungkan manusia dengan penciptanya7 . Oleh karena kedudukannya yang penting tersebut maka ruh harus diaktualkan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan ruhani. Manusia yang berhasil membina ruhaniahnya ia akan menjadi manusia yang dinamis dalam karya dan ketundukan kepada Allah SWT. Demikian halnya dalam kesuksesan pendidikan anak didik dapat terwujud jika anak mendapatkan porsi pendidikan yang paling esensial dalam hidupnya. Dan pendidikan yang lebih dibutuhkan anak sejak usia dini adalah pendidikan ruhani. Aspek ruhiyah mesti mendapatkan prioritas pertama yang harus dididik terlebih dahulu oleh orang tua, karena aspek ruhiyah memiliki peran yang sangat dominan dalam memompa ghirah dan semangat untuk belajar selanjutnya. Aspek kemanusian yang lain akan mengikuti jika ruhiyah (kejiwaan) diwarnai terlebih dahulu dengan nilai-nilai yang benar dan cara yang tepat. Aspek yang lain (fikriyah, jasadiyah dan ijtimaiyyah) akan mengimbangi jiwa yang baik dan akan terbawa arus kebaikan yang bersumber dari ruh. Penelitian ini akan membahas lebih jauh diskursus Pendidikan Ruhani menurut beberapa tokoh pemikiran pendidikan islam, klasik maupun kontemporer. Serta pengaruh positifnya bagi anak didik. Pengertian Ruhiyah. Ruh merupakan tempat mengalirnya kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikan, dan upaya menghindarkan keburukan dari dari dalam diri manusia.10 Ruh itulah yang disebutkan dalam firman Allah SWT:11 وَیَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِیتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِیلاً “Dan meraka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Q.S Al-Israa’:85). Ruh tidak terlihat dan tidak diketahui materi dan cara kerjanya, ia adalah alat untuk mengadakan kontak dengan Allah. Sesuai dengan fitrahnya yaitu alat yang membawa manusianya kepada Tuhan. Ia sesungguhnya merupakan sebagian dari ruh Allah yang telah diberikannya kepada segumpal tanah.12 Ruh merupakan tubuh yang halus/al jism al-lathifah, bersumber di loronglorong hati yang bertubuh, beredar melalui urat-urat, otot-otot ke segala bagian tubuh, memancarkan cahaya hidup dan perasaan. Dari kata “ruh” ini kemudian diturunkan istilah ruhiyah. Pada akhiran kata “ruh” diberi imbuhan diakhirnya ya’ nisbah sehingga menjadi ruhi. Kemudian kata ruhi Kemudian kata ruhi diberi imbuhan ta’ marbutah diakhirnya menjadi (ruhiyah) untuk menyesuaikan bentuk muannats (perempuan/female) dari kata tarbiyah (pendidikan). Kata ruhiyah dalam bahasa Indonesia memiliki arti rohani atau spiritual yang merupakan lawan dari kata maadi atau materiil. Aspek rohaniah (spiritual)-psikologis adalah aspek yang didewasakan dan diinsan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi positif dalam pembangunan kehidupan yang berkeadaban diberi imbuhan ta’ marbutah diakhirnya menjadi (ruhiyah) untuk menyesuaikan bentuk muannats (perempuan/female) dari kata tarbiyah (pendidikan). Kata ruhiyah dalam bahasa Indonesia memiliki arti rohani atau spiritual yang merupakan lawan dari kata maadi atau materiil. Aspek rohaniah (spiritual)-psikologis adalah aspek yang didewasakan dan diinsan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi positif dalam pembangunan kehidupan yang berkeadaban.
Manfaat tarbiyah Ruhiyah
1. Ikhlas kepada Allah SWT
Salah satu pengaruh terpenting dari pendidikan ruhani yakni timbulnya rasa ketulusan dan keikhlasan dalam diri seseorang, dengan menjadikan niat, perkataanya, dan perbuatan nya itu dilakukan dengan ikhlas untuk Allah SWT, ia tidak mencari sesuatu dalam kehidupannya kecuali keridhoan Allah, dan terbebas dari keinginan mencari kesenangan, kemuliaan, dan hal-hal yang bersifat duniawi. Keikhlasan kepada Allah SWT dalam segala tujuan dan upaya akan mewujukan hubungan yang langsung dan abadi dengan Allah SWT, menjadikan jiwa seorang menjadi suci dan bersih, dan menjadikanya sebagai pribadi yang soleh bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat dimana ia tinggal. Ketulusan seseorang juga menjadikannya selalu patuh dan memperhatikan Tuhannya dalam setiap gerakan dan kondisi, senantiasa bertafakkur, berdzikir dan seluruh perbuatan dan upaya yang ia lakukan lewat tangan dan kakinya. Sebagaimana firman Allah: وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِیَعْبُدُوا اللهَّ َ مُخْلِصِینَ لَھُ الدِّینَ حُنَفَاءَ وَیُقِیمُوا الصَّلاَ ةَ وَیُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِینُ الْقَیِّمَةِ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.( Al-Bayinah : 5)
2. Timbul Rasa Tawakkal (Penyerahan diri) kepada Allah SWT
Tawakkal kepada Allah akan menyebarkan dalam diri seorang ketentraman, ketenganan dan kenyamanan, hal tersebut berhubungan dengan kesehatan jiwa, akal dan kesehatan badan. Hal itu karena tawakkal kepada Allah membuat manusianya mampuh menghilangkan diri dari ketakutan-ketakutan, penyakit jiwa, rasa frustasi, kecendruangan-kecendruangan negatif, tekanan fikiran yang dapat menjadikan kebahagiaan manusia menjadi kesusahan dan penderitaan, kekacaauan rasa, rasa pesimis, serta hal-hal negatif lainnya. Tawakkal kepada Allah SWT merupakan hal yang penting bagi jiwa, akal dan raga yang sangat dibutuhkan bagi setiap manusia baik orang yang kuat maupun orang yang lemah, besar mupun kecil, laki-laki atau perempuan, yang berilmu ataupun yang beramal. Sebagaimana firman Allah: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لاَ یَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِھِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِیرًا Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Al-Furqan : 58).
Konsistensi/Istiqomah. Salah satu pengaruh penting dalam pendidiakan spiritual adalah pembentukan kebiasaan istiqomah, yang berarti bahwa seseorang dalam mengerjakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganya, dan menjaga aturan-aturan- Nya, dan selalu merasa akan eksistensi Allah (adanya Allah) di setiap waktu dan tempat, dan menganjurkan dirinya untuk mencari keridhoan-Nya dalam segala perbuatan dan selalu bertawajuh (menghadap) kepada-Nya dengan seluruh niatnya, dengan hal tersebut maka kebiasaan istiqomah tersebut menancap dalam dirinya dan berjalan sepanjang hidupnya, dan selalu merujuk kepada Al-Qur'an dan sunnah Nabi yang Terakhir Nabi Muhammad SAW dalam hal yang tampak (dhohir) dan yang batin terseumbunyi (batin), dan dalam niat dan amal, dalam tujuan dan cara, serta dalam agama dan dunia. Sebagaimana pula kebiasaan istiqomah ini memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan masyarakat, apabila kebiasaan ini berlaku bagi tiap individu masing-masing masyrakat maka akan menyebarlah rasa aman, dan rasa nyaman dan terliputilah dalam masyarakat rasa kasih sayang, mencintai sesama, solidaritas, toleransi, dan integrasi, dan terjaga dari unsur-unsur yang merusak, memecah belah hubungan sosial, dan akhlak-akhlak yang tercela. Prinsip Amar Ma'rif Nahi Mungkar. Pengaruh yang paling utama, atau buah yang paling matang dari pendidikan ruh ini adalah prinsip “prinsip amar ma'rif nahi mungkar", mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk. Sifat ini dapat tumbuh dalam diri seseorang melalui pendidikan ruhiyah. Dan prinsip tersebut memberikan pengaruh yang paling besar dalam pendidikan seorang, kepriadainnya dan penjagaanya dari hal-hal negatif, kesalahan-kesalahan dan kemaksiatan- kemaksiatan. Dalam kehidupan masyarakat prinsip tersebut melindungi seseorang dari unsur-unsur yang merusak moralitas, yang disebabkan oleh tersebarnya kerusakan, keburukan, dan kemungkaran yang nampak maupun yang tersembunyi. Dengan upaya yakni membiasakan anak-anak dengan pendidikan ruhani itu juga berarti upaya untuk menyebarkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sosial, dan dengan upaya yang menjadikan kehidupan manusia berdasar pada kemurnia/ kesucian, kebersihan, dan menerangkan tentang petunjuk dan hidayah, semua hal itu menjadi penjaga yang menentang adanya perpecahan, kemelencengan, dan pelindung dari segala kerusakan, kehilangan dan kesesatan.
Contoh tarbiyah Aqliyah
a. Membiasakan Anak Dengan Ibadah
Maksudnya adalah bahwa pembiasaan ibadah dilakukan secara bersama-sama bukan hanya menyuruh anak didik. Sehingga pendidikpun dapat menjadi suri tauladan bagi anak didiknya. Pembiasaan ibadah dengan merutinkan shalat misalnya. Sebab shalat adalah hubungan paling kuat antara hamba dengan Tuhannya. Orang-orang yang terbiasa shalat khusyu’ dalam sholatnya, ruhnya seakan menyatu dengan Rabbnya, oleh karena itu tidak heran mereka tidak merasakan peristiwa apapun yang terjadi di sampingnya. Bahkan tidak merasakan sakit terhadap luka yang dideritanya. Seperti para sahabat-sahabat nabi yang mulia ketika mendirikan shalat. Ruh mereka bisa mengalahkan dan mengontrol fisiknya. Mereka terdidik secara ruhiyah lebih dominan dibanding jasmaniyahnya,sehingga mampu menjadikan dirinya untuk menjadi contoh yang baik dalam mencapai kemulian hidup. Sebagaimana halnya ibadah shalat, anak-anak juga dapat dididik untuk melakukan ibadah puasa jika dirasa telah mampu. Faedah perintah ini adalah agar anak segera mempelajari hukum-hukum ibadah sejak kecil agar terbiasa saat dewasa. Selain itu juga agar anak terdidik untuk taat kepada Allah, melaksanakan hak- Nya, bersyukur kepada-Nya. Dan yang lebih penting dengan ibadah ini anak- anak bisa terjaga kesucian ruhiyahnya, kesehatan fisiknya, kebaikan akhlaknya, serta lurus per- kataan dan perbuatannya21 . Ibadah puasa juga dapat menguatkan ruh. Puasa juga menjaga diri dari ajakan syetan. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia membuat jalan syetan semakin terbuka. Rasulullah SAW. bersabda: إِنَّ الشَّ یْطَانَ یَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِیتُ أَنْ یَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَیْئًا ( متفق علیھ ) Artinya : “Syetan sungguh akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah maka sempitkanlah jalannya dengan me- nahan lapar” (Muttafaq ‘Alaih).
b. Mengajarkan Al-Qur’an
Mengajarkan Al-Qur’an termasuk salah satu sarana mendidik ruhiyah. Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib ra. beliau menyipati Al-Qur’an dengan sebuah ungkapan yang indah:”Al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat, dan cahaya-Nya yang terang, dan zikir yang sangat bijaksana, dan Al-Qur’an merupakan jalan yang lurus”. Allah berfirman dalam surat Al Ma’idah ayat: 15-16 یَا أَھْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا یُبَیِّنُ لَكُمْ كَثِیرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَیَعْفُو عَنْ كَثِیرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهَّ ِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِینٌ (١٥ (یَھْدِي بِھِ اللهَّ ُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَھُ سُبُلَ السَّلاَ مِ وَیُخْ رِجُھُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِھِ وَیَھْدِیھِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِیمٍ Artinya:“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan (banyak pula) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang- orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. Dalam tafsir Al-Sa’di(:248) dijelaskan makna nur (cahaya) yang datang dalam ayat ini adalah Al-Qur’an, yang digunakan untuk menerangi gelapnya kebodohan dan jalan kesesatan. Kebiasaan mengajarkan Al-Qur’an akan memberikan nutrisi kepada ruh anak sehingga menjadi sehat dan bersih.
c. Membiasakan Zikir
Rasulullah SAW. banyak sekali mengajarkan zikir kepada umatnya, diantaranya zikir pada waktu pagi dan sore. Juga zikir sesudah shalat dan waktu lainnya. Secara bahasa zikir berarti ingat.Ingat kepada Allah SWT. adalah merupakan amalan para Nabi dan Rasul serta orang-orang saleh. Imam Nawawi menulis satu buku khusus tentang zikir “al adzkar an Nawawiyah”. Beliau mengumpulkan dzikir-dzikir Rasulullah di pagi hari hingga malam, juga dzikir Rasulullah karena meminta sesuatu atau adanya acara- acara tetentu. Dzikir yang beliau kumpulkan bersumber dari hadits-hadits riwayat Al Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, dan An Nasa’i. Orang tua seharusnya terbiasa melafalkan zikir setiap hari serta mengajarkan dzikir tersebut kepada anak-anaknya,karena siapa saja yang mengharap kedekatan dengan Tuhannya dan ingin selalu diingat oleh penciptanya hendaknya ia memper- banyak dzikir kepada-Nya
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُون
Artinya:“maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian” (Al- Baqarah, ayat:152) Dalam tafsir Al-Sa’di disebutkan bahwa zikir yang paling utama adalah ketika hati dan lisan menyatu dalam mengingat Allah. Dzikir semacam ini akan memberikan dampak yang positif bagi pelakunya, lebih cinta dan lebih mengenal Allah SWT. ketika Allah hadir memberikan pertolongan dan rahmat-Nya maka itu sebagai balasan bagi orang yang selalu mengingat-Nya22 . Para ulama menyarankan bagi setiap muslim untuk membiasakan dzikir setiap hari, seperti orang makan setiap hari. Makanan adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh sedangkan dzikir adalah nutrasi untuk ruh. Sehari saja tubuh tidak mendapatkan asupan makanan atau minuman yang cukup, maka tubuh akan lemas tidak berdaya. Begitu pula dengan ruhmanusia jika asupan dzikirjarang diberikan akan sangat terasa kekeringan dalam hidunya dan jarak antara manusia dan Tuhannya semakin jauh.
e. Membiasakan Anak Berteman/Bersosialisasi. Ibnu Khaldun seorang sosiolog muslim
ternama mengatakan bahwa; manusia menurut fitrahnya adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain dalam hampir semua kegiatannya. Begitu juga dalam kebutuhan rohani manusia tetap membutuhkan orang lain. Shalat berjamaah di masjid misalnya adalah salah satu kebutuhan rohani seorang muslim. Pahala shalat berjamaah dua puluh tujuh lebih banyak dibanding shalat sendiri. Tapi pahala yang besar ini tidak akan diraih jika manusia tidak mencari teman untuk mendirikannya. Demikian juga shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha tidak bisa dilaksanakan jika hanya sendirian. Mencari teman juga begitu penting dalam menuntut ilmu. Belajar yang dilakukan bersama-sama lebih memberi makna dan menguatkan semangat belajar. Bahkan belajar bersama memiliki kedudukan tersendiri menurut Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:”Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah (masjid) yang mereka sedang membaca Al-Qur’an dan saling mengajarkan antara mereka, niscaya akan turun kepada mereka ketenangan dan rahmat, serta mereka dilindungi para malaikat, dan mereka disebut-sebut oleh Allah diantara para makhluk yang ada di sisi-Nya”.(H.R.Muslim) Hadis ini oleh sebagian ulama dimaksudkan bagi mereka yang berkumpul dalam rangka berzikir. Namun sebagian yang lain mengatakan dalam konteks menuntut ilmu. Meskipun demikian keduanya memiliki hubungan yang sangat erat, karena zikir (ingat) juga mencakup segala aspek yang mengandung arti mengingatkan, karena salah satu unsur dalam sebuah pembelajaran dan pendidikan Islam adalah mengingatkan seseoranguntuk selalu dekat dengan penciptanya,berfikir tentang hakekat dirinya, dan untuk berbuat baik kepada masyarakat di sekitarnya.
f. Mengikutkan Anak dalam Dauroh Ruhiyah.
Dauroh distilahkan juga dengan pelatihan atau training. Dengan Dauroh Ruhiyah tidak sedikit membuat anak semakin yakin akan kebenaran agamanya dan mampu membuatnya lebih tekun dalam beribadah. Dauroh Ruhiyah biasanya dilaksanakan beberapa hari sambil menginap di suatu tempat. Kegiatan pagi hingga siang sore diisi dengan materi keIslaman dan kemasyarakatan. Atau tergantung fokus kajian dalam dauroh tersebut. Sedangkan pada malam hari diadakan shalat tahajud berjamaah dilanjutkan dengan muhasabah. Termasuk dalam kategori Dauroh Ruhiyah adalah menghidupkan malam dengan shalat tahajud, siang hari berpuasa, dan membaca Al-Qur’an. Dauroh Ruhiyah bisa juga dilaksanakan bersamaan dengan waktu iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Mengadakan perkemahan (mukhayyam), melaksanakan haji dan umroh juga termasuk bagian dari Dauroh Ruhiyah. Dari uraian ini dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa: a. Manusia memiliki tiga potensi didalam dirinya yaitu, potensi jasad, akal dan ruh. Masing-masing potensi memiliki asupan yang harus diberikan. Dalam potensi jasad, yang harus diberikan adalah asupan gizi seimbang yang halal. Potensi akal yang harus diberikana adalah asupan ilmu baik ilmu pengetahuan ataupun ilmu agama. Dan, untuk asupan potensi ruh adalah ibadah-ibadah mahdhah dan zikrullah. b. Pendidikan yang dibutuhkan anak adalah yang bisa menyentuh seluruh sisi- sisi kemanusiannya: ruhiyah, aqliyah, jasadiyah, dan ijtimaiyyah. Namun yang paling utama harus diawali dengan pendidikan ruhiyah, karena itu merupakan motor peng- gerak yang memberi pengaruh kepada sisi kemanusian lainnya. Rohani yang bersih mampu mengontrol akal, jasmani dan sisi sosial untuk melakukan yang terbaik dan bermanfaat bagi manusia dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. c. Diantra cara yang ditawarkan oleh untuk mendidik aspek ruhiyah anak adalah dengan; membiasakan anak melaksanakan ibadah, mengajarkan Al-Qur’an, membiasakan ber- zikir, melatih anak untuk berteman, mendengarkan kisah para Nabi atau orang saleh, menyertakan anak dalam dauroh, dan memperdengarkan nasyid. d. Pendidikan Islam perlu mengadopsi dan menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan yang timbul akibat tuntutan terhadap pentingnya pengalaman spiritual dalam kehidupan, karena pendidikan Islam harus difahami sebagai pengembangan kepribadian seutuhnya. e. Perlu mengelaborasi secara secara eksplisit konsep pendidikan Islam dengan memasukkan aspek pendidikan spiritual sebagai bagian tak terpisahkan dari semua usaha dan kegiatan pendidikan. f. Perlu penelitian dan pengembangan lebih lanjut tentang operasionalisasi program-program pendidikan spiritual.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hamid, Usus al-tarbiyah al-islamiyah fi al-sunnah an-Nabawiyah, Tunis, Darul Arabiyah Lil Kitab. Alī ‘Abd al-Halīm Mahmūd, Pendidikan Ruhani, Jakarta: Gema Insani Press, 2000. Achmadi,(2005), Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001. Ali, Muhammad, Maulana,(2016),Islamologi; Panduan Lengkap Memahami Sumber Ajaran Islam, Rukun Iman,Hukum & Syariat Islam, Jakarta: CV. Darul Kutubil Islamiyah, cet. 8 Aliet Noorhayati S, Filsafat pendidikan, Yogyakarta: Deepublish, 2014, cet.ke-1. Al maraghi ,Ahmad Musthafa, (1964), Tafsir al Maraghi, jilid 20. Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara , 2011, cet.ke-2. al Tababai, Muhammad Husain,(1991), Tafsir al Mizan, Beirut: Muassasah al A’lami Lil Mathbuati, jilid 20. Burhanudin, (2004), Paradigma Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Dawan Raharjo (pen, Insan Kamil: Konsepsi Manusia menurut Islam, (Jakarta: Pustaka Grafiti Press, 1987. Imam Jalaluddin as Mahalli dan Imam Jalaluddin as Suyuthi, (2007),Terjemah Tafsir Jalalain Jilid 4, Bandung: Sinar Baru Algensindo. Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2000), Jilid II. Khalid bin Hamid al-Hazimi, Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyyah, Madinah, Dar ‘Alamil Kutub, 2000 Cet I. Khalid Ahmad Asy-Syantut, Al Muslimun Wa At-Tarbiyah Al-‘Askariyyah, Madinah, 1989 Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2000). M. Amir Langko, Metode Pendidikan Rohani Menurut Agama Islam , Jurnal Ekspose, Vol. 23, No. 1, (Juni 2014), Nizar, Samsul, (2002),Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers. Nasir As Sa’di, Abdurrahman. Taisiir Al Kariim Al Rahman Fii Tafsir Kalam Al Mannan. Beirut. 2000. Saleh, Rahman,Abdur, (2000),Pendidikan Agama dan Keagamaan, Visi, Misi dan Aksi, Jakarta: PT Gemawindu Pancaperkasa. Salman Harun, Sistem Pendidikan Islam, Bandung : PT. Alma’arif, 1993, Jilid III.
Komentar
Posting Komentar