TARBIYYAH AQLIYAH Oleh : Abdillah Tsaqif.A dan Vijay Raja Das
Pendidikan menempati posisi terpenting dalam kehidupan manusia. Sedangkan unsur terpenting dalam penyampaian ilmu dan proses pendidikan adalah akal.Dalam menjalani kehidupan dunianya, manusia dituntut untuk menggunakan daya akal (intelektualnya). Agar kehidupannya menjadi bermakna.Bahkan dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa manusia itu diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsani taqwiim). Karena disinilah letak pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan islam. Islam adalah seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia. Ajaran itu dirumuskan berdasarkan al-Qur’an, al-Hadits dan akal sebagai dasar dari teori-teori pendidikan. Tapi temuan akal tidak boleh bertentangan dari keduanya. Dengan demikian, akal menempati posisi terhormat dalam islam. Namun keberadaannya masih memerlukan pengarahan atau pendidikan agar terkendali dengan benar dan tepat. Pada dasarnya, kata tarbiyah aqliyah secara bahasa terdiri dari dua kata. Yaitu tarbiyah,berasal dari kata “Rabba-yarbuu-riban wa rabwah” yang berarti tumbuh, memelihara, berkembang, mendidik. Kata “rabba” ini bukan berati “mengganti” (tabdiil) ataupun “merubah” (taghyiir), melainkan menumbuhkan, mengembangkan dan menyuburkan atau lebih tepat “mengkondisikan” sifat-sifat dasar (fitrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya agar dapat tumbuh dan berkembang secara baik.[1] Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan itu yang dibidik adalah prosesnya. Yaitu menuju perubahan setelah potensi yang ada dalam diri seorang anak dikembangkan dan dikondisikan tanpa menghilangkan unsur asli atau kefitrahan manusia. Sedangkan kata ‘Aqliyah berasal dari kata ‘aqala yang berarti akal (intelektualitas).[2] Jadi tarbiyah ‘aqliyah berarti pendidikan akal. Akal, sebagai salah satu fitrah manusia merupakan kekuatan manusia terbesar dan pemberian Alloh yang paling besar. Akal digunakan untuk selalu berpikir, memahami dan merenungi tanda-tanda kekuasan Alloh di alam ini. Sedangkan untuk mengetahui dan merasakan segala apa yang ada di alam ini tentunya menggunakan tenaga indera. Dengan begitu, akhirnya terciptalah ilmu (pengetahuan).[4] Disinilah letak peranan utama akal dalam pendidikan. Tanpa akal pendidikan tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan al-Qur’an sendiri dengan tegas menjelaskan bahwa komponen penciptaan sempurna (ahsani taqwiim) inilah letak pembeda mendasar antara manusia dan makhluk lain. Diantaranya tercantum dalam surah Al-Zumar: 9:
قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أولو الألباب.…
“…Katakanlah, adakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
Dan pada surah al-Ankabut: 43:
وتلك الأمثال نضربها للناس وما يعقلها إلا العالمون
“Dan perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu”. Dengan demikian terlihatlah bahwa Islam menghormati tenaga-tenaga akal, mendorongnya dan membinanya supaya berjalan di atas jalan yang benar. Bahkan Kitabullah hanya ditujukan untuk orang-orang yang berakal. Manfaat tarbiyah Aqliyah . Tumbuhkan sikap kompetitif sehat dalam meraih prestasinya.sehingga tidak tumbuh sifat iri dan dengki terhadap sesamanya. Semua upaya tersebut akan membantu anak-anak tumbuh cerdas dalam ruang lingkup rasa syukur. Dalam kehidupan sehari-harinya, akhlak mulia tercermin dalam perilakunya yg penuh tanggung jawab,baik dalam belajar, penyampaian.maupun penerapannya. Sedangkan definisi pendidikan akal menurut istilah adalah Peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berpikir benar, dan mampu menjaga pemikiran dari pengaruh yang bermacam-macam sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan benar.[5] Pendidikan akal yang dimaksud meliputi:
1. Latihan perasaan, agar cermat dan benar dalam memilih sesuatu
2. Melatih memperhatikan sesuatu yang nyata dan memikirkannya menurut hakikat
3. Pengaturan pikiran dan membekalinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat
4. Menguatkan daya intuisi dan melatihnya
5. Membiasakan anak berpikir sistematis dengan melatihnya sesuai dengan dalil dan hukum dasar.
Dengan demikian, konsep tarbiyah aqliyah adalah suatu konsep pendidikan akal untuk berpikir benar, agar terbebas dari pemikiran yang tanpa dasar sehingga mampu membuat keputusan yang tepat dan benar. Contoh tarbiyah Aqliyah. Berdasarkan uraian di atas, pendidikan akal dapat diterapkan pada peserta didik sejak dini, dalam segala aspek kehidupan. Diantaranya adalah sebagai berikut:[6]
1. Pengetahuan
Yaitu dengan mengenal dan mengingat bahan yang diajarkan. Misalnya: mengenal dan mengingat wahyu dan hadits, berbagai peristiwa sejarah ( tokoh, waktu dan tempat penting lainnya).
2. Komprehensi
Yaitu kemampuan untuk menyimpulkan bahan yang telah diajarkan, dengan cara memahami ayat-ayat yang berbentuk abstrak, simbolis dan lain-lain.
3. Aplikasi
Yaitu keterampilan menggunakan abstraksi-abstraksi, kaidah dalam situasi yang khusus dan konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan dengan menggunakan istilah-istilah agama dalam percakapan sehari-hari.
4. Analisa
Yaitu mampu menguraikan suatu bahan ke dalam suatu ide atau pikiran-pikiran sehingga menjadi nyata. Misalkan dengan menganalisa pola susunan ayat yang turun di Makkah dan Madina.
5. Sintesa
Yaitu kemampuan untuk menyusun kembali unsur-unsur yang sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu keseluruhan yang baru. Misalkan mampu menceritakan kembali pengalaman-penglaman keagamaan baik lisan maupun tulisan.
6. Evaluasi
Yaitu kemampuan untuk menilai, menimbang dan melakukan pilihan/ mengambil keputusan yang tepat. Misalkan dengan memberikan pertimbangan terhadap pemecahan masalah keagamaan menurut prinsip dan ketentuan ajaran agama islam.
Pendidikan intelektual (al-Tarbiyah al-‘Aqliyah) adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berpikir benar. Pendidikan Intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realita secara tepat dan benar. Hal ini akan menghasilkan keputusan atas segala sesuatu yang dipikirkan menjadi tepat dan benar. Dalam pendidikan Islam, aspek intelektual berkembang dari kecermatan dan kejujuran berpikir serta aplikasi praktis menuju pengakuan akan adanya Dzat Yang Maha Tinggi melalui pencarian petunjuk serta penjauhan diri dari eksploitasi hawa nafsu. Dengan begitu, manusia akan mudah menemukan argumentasi dan pengetahuan yang meyakinkan, jauh dari praduga. Untuk implementasi konsep tarbiyah aqliyah diberbagai lembaga pendidikan Islam sudah banyak diterapkan, misalnya sistem pembelajaran diskusi yang banyak kita temui di perguruan-perguruan tinggi Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Asli : http://asfahani0.blogspot.com
Darajat, Zakiah, dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Dirjen Pembinaan Agama Islam. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam cet.II. Jakarta: t.p. 1994.
http://media.isnet.org/isnet/syamsi/didik.html
Muhammad, Abu Bakar. Pedoman Pendidikan dan Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional, 1981.
Nata, Abudin. Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Quthb, Muhammad. Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun. Bandung: PT al-Ma’arif, 1984.
Yunus, Muhammad. al-Tarbiyyah wa al-Ta’liim Juz Awal A. Gontor: Darussalam Press.
Komentar
Posting Komentar